Laporan Dari Cheongsong International Motorcycle Championship 2014

Dua jagoan endurocross Indonesia hadiri perhelatan akbar kelas Enduro Championship di Cheongsong, Korea Selatan pada 18-19 Oktober 2014 lalu. Hadir atas nama Rudy Poa dan Adies, mereka berdua berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah Enduro Championship kawasan Asia.

Cheongsong International Championship 2014 ini merupakan ajang resmi balap offroad roda dua yang dinaungi oleh FIM (Federasi Motor Internasional – yang berbasis di Eropa). Jadi guys…  ini bukan balap liar atau sebangsanya. Resmi!

Berikut laporan Rudy Poa, salah satu endurocrosser asal Jakarta, yang pada event tersebut jadi tandem Muchlis Adis Setyawan (motocrosser asal Malang, Jawa Timur) di ajang bergengsi ini.

Laporan berikut ditulis langsung oleh Rudy Poa (via Facebook):

Lokasi balap di kota kecil bernama Cheongsong, sekitar 4 jam dengan mobil. Pihak panitia menyediakan semua fasilitas yang kami butuhkan, dari penjemputan dari bandara dan penginapan sebelum dan setelah event di Seoul. Semua peserta asing dari Indonesia, China, Russia, Thailand dan Singapore berkumpul di Seoul hingga Sabtu pagi. Kami tiba di Cheongsong sekitar jam 11:30 waktu setempat dan langsung ke lokasi event di tepi sungai kecil yang tampaknya seperti ada bendungan di hilirnya.

Motor disediakan dari pihak panitia, semua peserta asing baik MX atau enduro dapat 250 cc 4 tak (4-stroke). Karena jenis motor sudah diberitahukan sebelumnya maka saya sudah mempersiapkan performance part yang kemungkinan dibutuhkan, seperti Akrapovic exhaust, ECU racing, Stegpegz, ARC flex lever, dan lain lain.

Sabtu siang kami sudah mulai mempersiapkan motor dan coba setting dan latihan di lapangan motorcross, karena lapangan enduro harus steril dan tidak boleh dipakai.

cs6Setelah sesi latihan selesai sekitar jam 17:00 waktu setempat, motor dan perlengkapan di-scrut dan motor langsung di karantina di Parc Ferme dan tidak boleh disentuh lagi.

Cheongsong berada di dataran tinggi area pegunungan, jadi temperatur di malam hari dan keesokan paginya cukup dingin. Suhu turun sampai dengan 2 derajat celcius.

Sabtu pagi (20/10) jam 6 pagi, rekan rekan suporter dari Indonesia yang dipimpin oleh Mr.  Sapto “Kecenk Lentrex” sudah stand by di lokasi start yang masih diselimuti kabut dengan suhu hampir 2 derajat celsius. Mendekati jam 08:00 waktu setempat, kami dan tim international lainnya tiba di lokasi event, kabut mulai menipis tapi suhu masih tetap dingin.

Setelah selesai Opening Ceremoni kami menuju Park Ferme untuk ambil motor dan langsung konvoi ke lokasi start SS1 yang kurang lebih 10 km melalui jalan aspal.

SS1 dimulai jam 10:30 dan matahari sudah melai bersinar terik membuat suhu lebih hangat menjadi diatas 10 derajat celcius. Time trial dilepas 2 peserta dan interval waktu 1 menit. Rute SS1 total hampir 30 km, dan dimulai dengan menelusuri sungai mati dengan batu lepas dengan ukuran beraneka ragam dan sewaktu waktu ada betonan yang tampaknya seperti bendungan yang harus kami naiki. Panjang sungai mati cukup panjang sekitar 5 km dan cukup menyiksa tangan apalagi kondisi diawal balap, badan masih agak kaku. Adies dengan mudah melibas rute sungai mati dengan mudah, saya bisa lihat karena saya dilewati Adies belum ada 1 km setelah start, hi..hi.

Rute berlanjut ke single track sebentar saja dan dilanjut ke double track yang turun naik dan tikungan patah. Tampaknya pembalap lain dapat dengan mudah dilewati, mereka segera menepi jika mendengar raungan knalpot dari belakang, mungkin karena sifatnya time trial, jadi masing-masing sadar dengan posisi skill mereka. Adies menyelesaikan SS1 tanpa halangan yang berarti. Disinilah terjadi kendala dalam perhitungan waktu untuk panitia.

Kami langsung kembali ke lokasi event lewat aspal sekitar 5 km dari lokasi finish. Kami langsung cek dan re-check motor sebentar, lalu motor harus di karantina di Parc Ferme di bantaran sungai dekat tempat SS2. Kami kembali ke tenda untuk istirahat dan makan siang, sambil menonton lomba MX. Pukul 13:00 lewat sedikit kami dikunjungi panitia dan diberitahukan bahwa kami ditunggu di garis start. Segera kami lari ke Parc Ferme dan ambil motor dan langsung ke garis start. Saya dan Adies start barengan.

SS2 dibuka dengan menanjak susunan batu batu yang sangat besar lalu menelusuri tumpukan tersebut sepanjang 100 m, tapi itu bukan halangan sama sekali untuk Adies, bagi saya… ya nyangkut-nyangkut plus dorong-dorong dikit lah. Setelah turun dari tumpukan batu langsung disuguhi balok pohon berjajar 3 potong lalu dilanjut ke single track rawa rawa ditepi sungai, lalu menyebrangi sungai yang lebarnya 40-50 m dengan dasar berbatuan.

penampilan Adies selalu membuat decak kagum penonton

Rute SS1 sekitar 7-8 km dan berkelok kelok dari sisi kiri dan kanan sungai. Kami harus menyelesaikan 3 lap. Jalur jalur air yang harus dilewati berdasarkan batu dan sebagian cukup panjang walaupun tidak terlalu dalam. Badan terasa dingin saat keluar dari sungai dan langsung gas pol. Menjelang finish disetiap putaran, kami disuguhi jalur endurocross dengan pohon susun 3 dengan jarak antara tumpukan 1 dan 2 yang cukup dekat dan diakhiri dengan potongan batang pohon yang berserakan dan ditutup dengan tumpukan pohon bersusun 3 lagi. Lokasi rintangan didepan tenda tenda yang dipenuhi penonton, Adies dengan mudah menerbangi susunan 3 balok yang berjajar 2 dan mendarat di potongan kayu yang berserakan.

Penonton langusung bersorak melihat penampilannya. 3 kali penampilan serupa disuguhkan ke penonton, jagoan Korea sendiri sempat kewalahan dirintangan tersebut. Setiap kali melintas di garis finish kami berhenti dan ditempel sticker dihem lalu lanjut ke lap berikutnya. SS2 juga dipenuhi dengan rute single track dan tanjakan yang cukup menantang.

Saat melintasi garis finish di lap ke-3, Adies disambut si Rambut Pirang jagoan Korean yang cukup takjub dengan hasil catatan waktu Adies. Saat saya finish beberapa saat kemudian (sebenarnya lebih dari beberapa sih). Adies sudah pakai jacket, dia mengigil karena basah dan suhu yang mulai dingin. Di garis finish saya juga disambut oleh beberapa orang Korea, tapi bukan karena penampilan saya. Di lap terakhir saat ditanjakan sempit dan nekuk patah motor saya nyangkut kebablas disemak semak dan sulit dikeluarkan, lalu tidak lama kemudian peserta lain mulai berdatangan dan nyangkut juga, karena merasa sungkan saya bantu tarik satu, dua, tiga motor… lah makin lama tambah banyak. Akhirnya sudah sepi, gak ada yang berhenti untuk bantuin saya. Saya lalu minta tolong juru foto untuk tarik motor saya. Lumayan lah… buat promosi Indonesia, dua duanya disambut hangat, yang satu penampilannya memukau yang satu ringan tangan (atau tolol).

Diluar acara balap, pihak Kore Motorcycle Federation sangat memperhatikan kebutuhan kami selama di Kore. Pelayanan mereka sangat memuaskan, semua peserta International diperlakukan seperti tamu agung. Hormat saya yang tinggi untul KMF.

Thanks, Rudy Poa

Photos courtesy of their respective owners

Kasih Komentar Disini